Cerita Di Sisi Masjid

Bukan hari yang istimewa, hanya membuat hati saya amat gembira. Lagi dan lagi Allah SWT mengabulkan doa saya dari sekian impian yang tiada batasnya. Menjadi penanda harus menjadi orang yang lebih memaknai kata syukur dalam kehidupan atas segala kenikmatan yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa,

Kemarin saya bertemu seorang ibu berusia kurang lebih 50 tahun ketika saya datang ke Masjid Mujahidin UNY menunggu teman untuk meminta tanda tangan dosen. Beliau Nampak sangat bersahaja, Ibu Is panggilannya. Beliau tiba-tiba menyapa saya dan menanyakan nama saya kemudian memanggil saya Wakhidah, “Yaampun Bu nama panggilan saya tambah lagi,” ucap saya pada beliau yang hanya tertawa.

Beliau menawarkan dua buah buku, katanya untuk menambah biaya pengobatan suaminya yang sedang sakit gejala stroke yang saat itu tengah kambuh dan dalam perawatan.

Disamping itu banyak hal yang beliau ceritakan, di balik wajahnya yang bersahaja ada banyak cerita dan nasehat yang beliau berikan untuk saya dan terdengar bak berbicara dengan ibu saya.

“Kamu jadi mahasiswa harus jadi orang yang bener, jangan menyimpang sama kegiatan yang nggak seharusnya kamu ikutin. Jadi mahasiswa banyak hal yang perlu kamu waspadai, karena di luar sana banyak yang mengincar maba-maba kayak kamu,” begitu kata beliau setelah membicarakan anaknya yang diajak untuk bergabung ke dalam organisasi yang menurut Bu Is punya visi misi berbau gerakan-gerakan tanda kutip, saya yang berada di sampingnya manggut-manggut mengiyakan.

Tak pernah terfikir oleh saya sendiri menjadi seorang mahasiswa sebelumnya. Dalam bayangan saya hal ini merupakan goal yang datang tanpa diduga-duga dan saya tahu ini jadi salah satu takdir Allah yang luar biasa. Tanpa diduga, datang dengan kuasa Tuhan dan memberikan saya amanah yang luar biasa ini untuk menuntut ilmu.

Ibu Is, beliau berkata jika semua hal itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, termasuk rezeki dan ilmu yang kita dapatkan dalam hidup. Allah tahu seberapa besar usaha yang hamba-Nya lakukan hingga Dia dapat menilai dan memberikan kuasa-Nya kepada kita yang mau berusaha dan berdoa.

Saat berbicara dengan beliau terasa seperti berbicara dengan teman sendiri, beliau tidak sungkan untuk bercanda dan bercerita tentang berbagai hal meski kita baru saja berjumpa. Parasnya yang sederhana terlihat begitu bersahaja. Dan jika diperbolehkan untuk bertemu kembali dengan beliau saya ucapkan terima kasih banyak kepada Bu Is karena telah mau berbagi cerita dan memberikan nasehatnya kepada saya. Meski hanya sebentar bertemu dengan beliau, tapi kata-katanya merupakan hal yang akan saya ingat sepanjang masa. Di sisi lain apa yang saya lihat dari tutur kata dan usaha beliau untuk mencari biaya pengobatan suaminya menambah rasa kagum tersendiri. Keteguhannya, ketabahannya, dan keuletannya patut diacungi jempol.

Terimakasih kepadamu Ibu Is, seorang ibu yang bersahaja. Dari seorang yang memiliki nama panggilan baru darimu

Wakhidah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s