Abe (2019)

– Menyatukan dua budaya dalam cita rasa, could Abe do his job well? –

Hi hello, readers! Kembali menulis lagi di blog setelah sekian lama. Jadi selama pandemi ini aku lagi banyak re-watching koleksi film yang ada dan nyambi melakukan observasi untuk mencari detail-detail dari film yang mungkin belum jelas atau terlewatkan pas pertama kali kutonton. Dari sekian banyak (atau lebih tepatnya beberapa) judul film yang telah rampung kutonton ulang, ada satu film yang nampaknya menarik untuk diulas. Film ini punya genre drama family dan satu dari sekian tipikal film yang mengulik hubungan kekeluargaan. If you love it, you can watch it!

Poster official film Abe (sumber: imbd.com)

Abe adalah seorang anak laki-laki yang seharusnya bisa menjalani kehidupan normalnya sebagai seorang cucu tunggal yang begitu disayang oleh keluarga dari ayah dan ibunya. Namun, tentu saja film ini tak akan menjadi menarik jika jalan ceritanya tak memberikan konflik yang  kuat untuk diikuti. Problematika besar yang muncul dalam hidup Abe ada dua, krisis identitas yang ada pada dirinya dan konflik antar negara yang selalu muncul dalam keluarga ibu dan ayahnya. Perbedaan background budaya yang nampak mencolok tersaji dalam film ini.

Memiliki passion dalam memasak yang diturunkan dari neneknya membuat Abe memiliki keinginan untuk mendalami lebih dalam mengenai dunia kuliner. Dirinya adalah seseorang yang sering melakukan eksperimen secara mandiri. Memadukan bahan-bahan dapur yang ada untuk menciptakan varian baru ke dalam cita rasa makanannya. Memasak adalah satu-satunya hal yang membuatnya bebas untuk menjadi dirinya di luar problematika budaya keluarganya.

Abe lahir sebagai cucu tunggal. Ayahnya yang berdarah Muslim Palestina dan ibunya yang murni berdarah Yahudi Israel memberikan gambaran yang cukup gamblang mengenai konflik berkepanjangan dari dua negara dalam film ini. Meskipun telah menetap di sebuah negara dengan perbedaan kultur budaya yang begitu kuat, tak lantas membuat konflik internal kedua negara luntur begitu saja. Konflik internal yang selalu menjadi syarat dalam setiap obrolan pertemuan kedua keluarga ini akhirnya membawa keinginan dalam diri Abe untuk merubah sudut pandang mereka.

Untuk mengisi liburan musim panas, Abe mengikuti kamp memasak yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya. Namun dirinya memutuskan untuk melakukan hasil research mandirinya. Dari sudut pandang seorang Abe, kita akan tahu bahwa dia adalah seorang remaja cerdas dan tangguh dengan mimpinya. Dirinya memilih untuk menemui Chico, seorang koki asli Brazil yang mengabdikan dirinya secara penuh dalam dunia kuliner. Chico memiliki pandangan luas dalam dunia kuliner. Di dalam diri seorang Chico ada keinginan Abe untuk tahu lebih banyak tentang rasa dan secara tidak langsung penyatuan budaya dalam sajian makanan.

Mengotak-atik rasa adalah hal yang biasa Chico lakukan. Kerja sama dengan timnya dan atmosfir ruang memasak Chico membuat mata Abe berkilau-kilau untuk belajar darinya. Rasa ingin tahunya adalah modal utama yang ia bawa. Membuat seorang Chico yang awalnya nampak ragu, perlahan mulai tahu bahwa Abe memiliki potensi sebagai seorang koki. Chico kemudian memberikan kesempatan emas bagi seorang Abe untuk bergabung sebagai timnya.

Puncak cerita dari film ini terjadi saat setelah ayah ibu Abe mengetahui apa yang putra mereka lakukan selama ini. Mereka nampak begitu tak setuju, membuat Abe terpaksa tak berkunjung lagi untuk menemui Chico. Ia tak mengunjung Chico lagi hingga akhirnya konflik latar belakang negara dalam jamuan makan malam yang telah Abe persiapkan memuncak. Membuat seorang Abe yang berharap semuanya bisa membaik malah memutuskan untuk pergi dari tengah-tengah adu mulut berkepanjangan.

Pada akhirnya anti-klimaks dari film ini berjalan seperti yang diharapkan. Dengan diakhiri ending yang membuat Abe (dan tentu saja penonton) bahagia. Lantas seperti apa? Tentu saja dengan terselesaikannya problematika dalam kehidupan seorang Abe.

Yang menarik dari film ini adalah penyajian ide cerita, latar belakang yang mengawali terciptanya film ini. Mengangkat realita kehidupan yang ada di antara keturunan Palestina dan Israel adalah pemikat utama. Dipadukan dengan passion untuk mencari jati diri dalam dunia kuliner menciptakan variasi yang menyenangkan untuk diikuti. Meskipun sebagian dari kita mungkin akan merasa bahwa penyajian konflik yang ada disajikan dalam durasi yang terlalu singkat dan terkesan buru-buru, akan tetapi hal itu dapat tertolong dengan tampilan scene memasak dan sajian kuliner yang memukau. Selain itu film ini dibumbui dengan lelucon sarkasme yang dapat menggelitik penonton.

So far, I am so happy to watch this movie. Cuz what? Karena bisa belajar tentang budaya, menemukan perspektif baru, dan tentu saja makanan wkwk. I have interested on cultures and food recently and this movie brings both of them.

In case if you’ve had watching this movie, remember that Abe prefers to be called as Abe, not Ibrahim or Avraham. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s